PEMIKIRAN PENDIDIKAN
KH. ABDURRAHMAN WAHID (GUSDUR)
Oleh : Ratna Dwi Lestari, S.Pd.I
(Tenaga Pendidik di MI Wahid hasyim
II Ngampelrejo, Jombang, Jember Jawa Timur)
Kurangnya kesadaran dan pemahaman tentang Pendidikan multicultural
sangat berbahaya terhadap nasib persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Rasa
Fanatisme dalam artian sempit menjadi boomerang yang kapan saja bisa
menghancurkan kebhinekaan bangsa Indonesia, tingginya angka kekerasan, kerusuhan, terhadap perbedaan
suku, agama, ras dan aliran menjadi indicator kurangnya rasa toleransi dan
pemahaman terhadap Pendidikan multicultural. Sejatinya dalam proses Pendidikan
bukan hanya terdapat proses transver of knowlwdge saja tapai juga mencakup
proses value. Transfer of knownedge bertendensi ke arah penguasaan terhadap
pengetahuan peserta didik (aspek kognitif) sedangkan Value maksudnya adalah
sebuah proses dimana peserta didik mengimplementasikan pengetahuan yang ia
miliki kedalam tindakan sehari-hari termasuk penerapan sikap toleransi, saling
menghormati dengan sesama manusia.(Halimatus dan Nurhayati 2019)
Di eramodern yang didukung dengan kecanggihan tehnologi dimana setiap orang bisa dengan mudah dan bebas mengakses informasi secara virtual melalui media sosial dan semacamnya. Hal ini yang mendorong manusia untuk terus berevolusi sehingga dinamika persoalan dalam kehidupan masyarakat makin komplek dan rentan terjadinya konflik, apalagi Indonesia adalah negara majemuk yang terbentuk dari berbagai suku, agama, ras dan aliran, maka dari itu diperlukannya Pendidikan perdamaian (Peace education) sebagai solusi untuk mencegah atau meminimalisir kekerasan atau kriminalisasi yang mengatas namakan agama, ras, suku, aliran dan mencegah radikalisme. Dari sinilah adanya keinginan untuk mempelajari konsep pendidikan perdamaian yang di miliki oleh KH. Aburrahman Wahid untuk memperkaya khazanah didunia pendidikan Islam dan pendidikan perdamaian.
A.
Gus Dur dilahirkan tanggal 4 Sya’ban 1940 (7 September 1940) di Denanyar, Jawa Timur dirumah kyai Bisri Syansuri ( rumah kakeknya dari fihak ibu). Secara garis keturunan Gus Dus merupakan cucu dari kyai Bisri Syansuri (Ayah dari pihak ibu) dan kyai Hasyim Asy’ari (Ayah dari pihak Ayah) yang sangat dihormati baik dari segi perannya dalam mendirikan NU maupun sebagai salah satu ulama’besar yang ada di Indonesia.(Barton 2020, 26) kyai Hasyim Asy’ari merupakan pendiri NU pada tahun 1926. K.H. Wahid Hasyim dan Hj.Solichah munawaroh merupakan orang tua Gus Dus, Gus Dur adalah anak pertama yang terlahir dengan nama lengkap “Abdurrahman Addakhil” yang artinya sang penakluk, kemudian dalam perjalananya nama tersebut diganti dengan Abdurrahman Wahid yang kemudian lebih akarab dipanggila Gus Dur. Beliau memiliki lima saudara kandung, yaitu: Aisyah, Salahuddin Al-Ayyubi atau Salahuddin Wahid, Umar Al-Faruq, Lilik Khadijah, dan yang terakhir Muhammad hasyim.(2016)
Baca juga : PERSIAPAN!!! Memulai "Bersanding Virus" Kondisi Baru Bagi Dunia Pendidikan
1. Sekolah
Dasar KRIS Jakarta Pusat
2. Sekolah
Dasar Matraman Perwari Matraman Jakarta Pusat
3. Sekolah
Menengah Ekonomi Pertama (SMEP)
4. Melanjutkan
SMP di Yogyakarta
5. Pesantren
Al-Munawwir di krapyak
6. Pesantren
tegalrejo di Magelang
7. Pesantren
Denanyar Jombang
8. Pesantren
Tambak Beras, Jombang (1959-1963) dibawah bimbingan Kiai Wahab Chasbullah
9. November
tahun 1963 melanjutkan ke Departemen Studi Islam dan Arab Tingkat Tinggi,
Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (1964-1966)
10.
Gusdur menikah dengan seorang perempuan yang
cantic serta rendah hati yakni ibu Sinta Nuriyah, putri dari H.abdullah syukur seorang pedagang yang
cukup terkenal dari Jombang pada tanggal 11 September 1971. Dari pernikahannya
tersebut Gus Dur memiliki empat orang anak yaitu: Alisa Qotrunnada, Zanuba Arifah, Anisa Hayatunufus dan
Inayah Wulandari.(TEMPO 2009) Sekitar tahun
1974 disaat beliau menjabat sebagai sekertaris pesantren tebu ireng beliau juga
mulai menjadi seorang penulis dan kolumnis, melalui tulisannya tersebut Gus Dur
mengungkapkan berbagai ide yang beliau miliki dan tuisan-tulisan tersebut mulai
mendapat banyak sorotan dari berbagai fihak. Gus Dur juga mulai banyak mendapat undangan
menjadi naras umber diberbagai forum diskusi baik didalam negri maupun luar
negri. Karya-karya Gus Dur diantaranya adalah:
- Kontraversi pemikiran Islam di Indonesia.
- Hukum Islsm di Indonesia: Pemikiran dan praktek
- Bunga rampai Pesantren
- Kiai nyentrik membela pemerintah
- Tabungan Gus Dur, Pribumi Islam, Hak minoritas, Reformasi kultur
- Agama dan kekerasan: dari anarkisme Politik ke Teologi kekerasan
- Gus Dur menjawab perubahan zaman
- Membangun Demokrasi
- Tuhan tidak perlu dibela
- Prisma pemikiran Gus Dur
- Menggerakkan tradisi: Esai-esai pesantren
- Abdurrahman Wahid selama lengser: kumpulan kolom dan artikel
- Islamku, Islam anda, Islam kita
- Gus Dur menjawab kegelisaha rakyat
- Islam Kosmopolitan: nilai-nilai Indonesia dan transformasi kebudayaan.(Tohet 2017)
Selanjutnya akan
dituliskan sekilas perjalanan karir dari Gus Dur meliputi:
1. Dosen
dan Dekan difakultas Ushuludin, Universitas Hasyim Anshari.
2. Ketua
balai Seni Jakarta (1983-1985)
3. Pendiri
dan pengasuh pesantren Ciganjur
4. Ketua
umum PBNU (1984-1999)
5. Ketua
Forum Demokrasi (1991-1999)
6. Ketua
Konfrensi Agama dan Perdamaian Sedunia ( 1994)
7. Anggota
MPR ( 1999)
8. Presiden
RI ( 20 Oktober 1999 – 24 Juli 2001)
9. Ketua
Dewan Syuro PKB
10. Ketua juri dalam Festival
Film Indonesia (1986-1987).
Perjalan
hidup Gus Dur sangat komplek mulai dari yang bersifat tradisional, ideologis,
Fundamental , sekuler sampai modernis. Pengetahuan Gus Dur tentang agama diperoleh didunia pesantren, dipesantren
karakter Gus Dus dibentuk secara etika, formal dan sruktural, perjalanan gus
Dur ke Timur Tengah menambah pengetahuan beliau tentang berbagai pemikiran
Agama dari yang konservatif, simbibolik-fundamentalis sampai yang
liberal-radikal. Pemikiran tentang kemanusiaan Gus Dur banyak terilhami dari
kolaborasi antara pemikiran barat dengan filsafat Humanismenya dan pemikiran
dari Kyai fatah ( Tambak beras), KH. Ali Ma’sum (Krapyak), Kyai Chudhori (
Tegalrejo) sehingga membentuk Gusdur menjadi orang yang peka terhadap urusan
kemanusiaan.
Lahirnya
pemikiran Gus Dur berdasarkan pada tiga lapisan budaya yaitu budaya pesantren (
hierarkis, tertutup, etika yang serba formal) dunia Timur (terbuka dan keras),
serta dunia barat ( liberal, rasional, dan sekuler) Gus Dur memadukan ketiga
lapisan tersebut menjasi kultur yang bersinergi. Dari uraian diatas tidak ada
yang lebih mendominasi pemikiran Gus Dur semua pengaruh memiliki porsi yang
sama ditambah lagi dengan kebebasan cara berfikir dan luasnya pemikiran Gus Dur
inilah yang menjadikan Gu Dur sebagai sosok yang selalu dinamis dan sulit untuk
dipahami.(REPUBLIKA.CO.ID
2009) Gus Dur Wafat pada tanggal 30 Desember 2009,
dirumah sakit Cipto Mnagunkusumo(RSCM) Jakarta pada usia 69 tahun, dan
dikebumikan di komplek pemakaman keluarga pondok pesantren Tebuireng Jombang,
jawa timur.(Tohet 2017)
Penghargaan yang pernah beliau raih adalah:
- Ramon Magsaysay Award for community leadhership, Ramon Magsasay Award Foundation, Philipna tahun 1991
- Islami missionary award from the Government of Egypt tahun 1991
- Penghargaan bina Ekatama tahun 1994
- Man of the Year 1998 majalah berita Independent tahun 1998
- Honorary Degree in public Administration and policy Issues from the University of Twente, tahun 2000
- Gelar Doktor kehormatan dari universitas Jawaharlal Nehru tahun 2000
- Ambassador for peace salah satu badan PBB tahun 2001
- Doctor honoris Causa dari universitas Sokka, jepang, tahun 2002
- doctor Honoris Causa bidang hukum dari konkuk University, seoul, korea selatan tahun 2003
- Medals for Valor (penghargaan bagi personal yang gigih memperjuangkan pluralism dan multikulturalisme) oleh Simon Wieshenthal Center (Yayasan dibidang HAM dan toleransi umat beragama)New York tahun 2009
- Penghargaan nama KH.Abdurrahman Wahid sebagai salah satu jurusan studi agama di temple University, philadelphi tahun 2009.(Tohet 2017)
B.
Tujuan Pendidikan Islam menurut Gus Dur
Urgensi
Pendidikan islam terletak pada prakteknya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga
ruh Pendidikan menjadi lebih penting dari padaformalitas fisik yang Nampak
diluar. Menjadikan agama sebagai sumber inspirasi orang beragama dan bernegara
adalah hal yang lebih utama. Menurut Gus Dur ada empat al yang yang bisa
menegakkan Indonesia dimasa datang yautu : system politik, system ekonomi,
system Pendidikan dan system etika atau moral atau akhlaq. Dimana keempat
system tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Untuk melahirkan
politik yang kuat perlu disokong oleh system ekonomi yang mumpuni, kemampuan
mengelola berpolitik dan mengatur sistenm Pendidikan yang baik dan ketiga hal
tersebut direkatkan dengan adanya akhlaq yang baik dalam kehidupan sehari-hari
dalam berbangsa dan bernegara.
Tujuan dari Pendidikan perdamaian (peace education) dalam Pendidikan Islam adalah menyentuh aspek kognitif dan aspek praktis sehingga peserta didik bukan hanya mendapat materi saja tapi juga mengimplemtasikannya dalam kehidupan sehari-hari yang melibatkan komponen-komponen budaya khas Nusantara guna melestarikan budaya warisan Nenek moyang yang tercover dalam pendidikan. Membangun pemikiran Islam yang Moderat yang mendorong lahirnya demokrasi, pluralism berdasarkan nilai agama, multikulturalisme dan toleransi di kalangan kaum Muslim Indonesia. Tujuan ini juga diterapkan menjadi salah satu program dalam Wahid Istitute mengkampanyekan pemikiran islam yang menghargai pluralitas dan demokrasi. Gus Dus menyadari bahwa pendidikan dan pesantren memiliki power yang besar dalam menentukan sama depan bangsa maka dari itu beliau mencoba mensinergikan Pendidikan dan pesantren untuk mencetak generasi muda yang menjunjung nilai pluralitas di Indonesia dengan bersendikan nilai-nilai agama. Menurut Gus Dur agama adalah sebagai akhlaq atau etika bukan idiologi yang digunakan untuk mengislamkan negara. Maka dari itu akhlaq menjadi prioritas untuk mewujudkan masyarakat yang tentram, damai dalam nilai yang dihormati Bersama.(Tohet 2017)
C.
Kurikulum yang tepat dalam Pendidikan Islam dalam perspektif Gus
Dus
Kurikulum Pendidikan islam dalam
versi Gus Dus haruslah sesuai dengan kondisi zaman, menggunakan pendekatan yang
bersifat demokratis dan dialogis antara guru dan peserta didik sehingga
melahirkan proses pembelajaran yang aktif, kreatif dan objektif guna
mengarahkan peserta didik untuk mampu berfikir kritis dan memiliki semangat
untuk terus belajar sepanjang hayat sehingga ia akan menjadi orang yang terus
mengikuti perkembangan zaman.(Tohet 2017) Bicara soal pesantren Gus Dur menginginkan pesantren harus dapat
menjaga keunikan identitasnya menjaga
budaya keilmuan klasiknya maksudnya pesantren tidak sepenuhnya mengikuti
perkembangan zaman yang berlebihan. (Ulfah dkk. 2020)dipesantren Gus
Dur mengharapkan adanya gerakan modernisasi pesantren terutama
kurikulumnya, dimana perubahan Kurikulum
yang ada pipesantren mengikuti memadukan konsep klasik dan modern, menerapkan
sesuatu yang baru yang dianggap positif, Misalnya:
1. Membangun lab untuk mengembangkan kajian keislaman maka
perlu diajarkan ilmu nahwu, tafsir Al-Qur’an dan Hadist Nabi, sehingga
kelestarian nilai-nilai keislaman akan tetap terjaga sepanjang masa.
2. Memberikan materi kewira usahaan, sains dan tekhnologi.(Halimatus dan Nurhayati 2019)
D.
Metode dan konsep pendidikan yang tepat menurut Gus Dur
Metode
yang dipakai adalah dialog, pembiasaan, modeling kepada peserta didik untuk tidak
melakukan kekerasan, mengutamakan membangun sikap kemanusiaan dengan menjunjung
tinggi nilai-nilai Pendidikan perdamaian.(Halimatus dan Nurhayati 2019)
Konsep Pendidikan yang dikembangkan oleh Gus
Dur adalah Religious Multiculturalism based education maksudnya Pendidikan yang
berdasarkan pada nilai-nilai keagamaan dan bertujuan untuk membimbing atau
mengantarkan peserta didik menjadi manusia utuh, mandiri dan bebas dari
belenggu penindasan.(Tohet 2017) Ini sejalan dengan
aliran Filsafat Pendidikan “Eksistensialisme”.kebenaran yang hakiki
merupakan sebuah pilihan yang bersumber dari diri kita sendiri. Maksudnya
adalah guru hanya berperan sebagai fasilitator yang tugasnya membantu peserta
didik dalam menemukan jati dirinya, pendidik harus bisa melihat peserta didik
secara utuh segala potensinya, kekuranganya, kelebihannya yang dimiliki peserta
didik, kemudia menghaormati dan menghargai keragaman masing-masing peserta
didik baik secara rasional maupun emosioanal. Memberikan kemerdekaan tiap
peserta didik dalam Pendidikan, melihat dan mengarahkan pertumbuhannya dalam
proses penyadaran dan humanisasi. Dari uraian
diatas tersirat dengan jelas konsep Pendidikan yang diusung oleh Gus Dus
mengandung konsep Pendidikan multicultural. Contoh Konsep
Pendidikan yang dibawa oleh Gus Dur diantaranya adalah:
- Memadukan Pendidikan yang bersifat tradisional atau klasik dengan Pendidikan yang berkonsep modern atau barat tanpa meninggalkan esensi ajaran Islam. Konsep ini dirasa bisa menjadi salah satu pendekatan untuk menyelesaikan konflik- konflik berantai guna mewujudkan Pendidikan Islam yang modern sesuai dengan perkembangan zaman.(Halimatus dan Nurhayati 2019).
- Perlu adanya pembaharuan Islam yang disebut dengan Istilah Tajdid Al-tarbiyah al-islamiyah dan al-hadasah. Maksud dari kata tersebut adalah dalam proses Pendidikan nilai-nilai ajaran agama Islam harus tetap diutamakan sedangkan yang perlu dirubah adalah metode penyampaiannya agar peserta didik lebih antusias dalam proses Pendidikan sehingga bisa menyerap ilmu pengetahuan lebih maksimal.
- Pendidikan bisa diperoleh dimanapun baik di lingkungan formal dan nonformal. Penanaman nilai-nilai ajaran islam bisa dilakukan dimanapun baik lingkungan formal seperti sekolah dan universitas maupun dilingkungan nonformal seperti pesantren, pengajian, paguyupan, dan lainya, pada intinya disemua lingkungan kita bisa mendapat ilmu tentang Pendidikan nilai-nilai agama.
- Pendidikan islam harus mampu merespon tantangan modernisasi dengan cara selalu menyimak berbagai perkembangan Pendidikan islam diberbagai tempat guna memeiliki cakrawala wawasan yang luas sehingga mampu memberikan solusi yg berkaitan dengan masalah-masalah sosial dalam Pendidikan. Hal ini sejalan dengan firman Alloh dalam surah Al-Baqoroh ayat 30 yang pada intinya mengemukakan bahwa “ Manusia adalah sebagai kholifah dibumi “ istilah ini mengisyaratkan bahwa setiap individu memiliki kebebasan dalam menuntut ilmu maupun beraktifitas serta membutuhkan ruang gerak yang tidak mengekang aktifitasnya selama hal itu tidak merugikan orang lain demi mewujudkan tugasnya sebagai khalifah dibumi .
- Pendidikan Islam harus menjadi suatu media dalam mengembangkan kreatifitas dan kemampuan peserta didik, dimana peserta didik diposisikan sebagai subjek dalam Pendidikan bukan sebagai objek semata. sejalan dengan pemikiran Paulo Freire (tokoh pendidikan Brazil) yang mengungkapkan bahwa pendidikan yang ideal harus berorientasi pada nilai-nilai Humanisme. Pendidikan Humanism yang dimaksud adalah kodrat manusia adalah sebagai pelaku atau subyek yang aktif bukan sebagai penderita atau objek Pendidikan yang dipangdang pasif, hal ini akan melahirkan kekuatan, kesadarandan pembebasan manusia dari kondisi ketertindasan yang ada dalam Pendidikan. Contoh Bentuk ketertindasan adalah segala hal yang menghambat proses pendidkan seperti: komersialisasi Pendidikan yang tersistem, kekerasan dalam Pendidikan dan lainnya. (Halimatus dan Nurhayati 2019)
E. Strategi Pendidikan Islam dalam perspektif Gus Dur
1. Srategi politik
Selama perjalanan karirnya Gus Dus
berusaha untuk terjun langsung dalam perkemabnganan
dunia Pendidikan dengan upaya menyediakan fasilitas yang memadai yang bisa
dimanfaatkan oleh semua orang selain itu Gus Dur juga menggerakkan strategi
politik dengan cara memperjuangkan sesuatu yang diperjuangkan terhadap
nilai-nilai Pendidikan Islam.
2. Strategi kultural
Menggunakan tradisi yang ada agar membuat masyarakat patuh pada nila-nilai Pendidikan Islam dengan cara masih mempertahankan budaya dan tradisi daerahnya, seperti: yasinan, tahlilan, pengajian rutin dimasyarakat,(Ulfah dkk. 2020)
3.
Strategi
sosio-kultural
Menyatukan masyarakat yang plural dan majemuk melalui Pendidikan perdamaian (peace education) masyarakat akan dibantu menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapinya maka secara otomatis Pendidikan akan membawa masyarakat pada kehidupan yang lebih baik .(Halimatus dan Nurhayati 2019)
F.
Evaluasi yang tepat dalam Pendidikan Islam dalam perspektif Gus Dur
Pendidikan
merupakan suatu upaya dalam mempersiapkan sumber daya manusia (human resource)
yang memiliki keahlian dan keterampilan sesuai tuntutan pembangunan bangsa.
Kualitas suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh factor pendidikan. Perwujudan
masyarakat berkualitas tersebut menjadi tanggung jawab pendidikan. Terutama
dalam menyiapkan peserta didik menjadi subjek yang makin berperan menampilkan
keunggulan dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri, dan professional pada bidang
masing-masing. Upaya peningkatan kualitas pendidikan dapat tercapai secara
optimal apabila dilakukan pengembangan dan perbaikan terhadap komponen-komponen
pendidikan. Dengan demikian, pendidikan pada dasarnya diselenggarakan untuk
membebaskan manusia dari berbagai persoalan hidup yang melingkupinya.
Pendidikan merupakan upaya mengembalikan fungsi manusia menjadi manusia agar
mereka terhindar dari berbagai bentuk penindasan, kebodohan, dan ketertinggalan
artinya pendidika merupakan bentuk pembebasan yang mengeluarkan manusia dari
berbagai belenggu yang menyebabkan stagnasi peradaban manusia.
Bentuk
evaluasi yang relevan versi Gus Dur dalah perlu adanya bimbingan dan pelatihan
tentang peningkatan proses (Process Oriented) merupakan konsep dimana
menganggap bahwa proses itu lebih penting dari pada hasil yang didapat,
memandang semua manusia sama derajatnya walaupun berbeda suku, agama ras dan
aliran, semua memiliki hak yang sam untuk mengenyam proses Pendidikan sebagai
bekal hidup didunia dan diakherat.
DAFTAR PUSTAKA
Barton,
Greg. 2020. BIOGRAFI GUS DUR. Yogyakarta: IRCiSoD.
Fathoni. 2016. “Kisah Nyai Wahid Hasyim
Mendidik Gus Dur dan Kelima Adiknya Sumber:
https://www.nu.or.id/fragmen/kisah-nyai-wahid-hasyim-mendidik-gus-dur-dan-kelima-adiknya-eO0dbhttps://www.nu.or.id/fragmen/kisah-nyai-wahid-hasyim-mendidik-gus-dur-dan-kelima-adiknya-eO0db,”
5 Agustus 2016.
Halimatus, Sa’diyah, dan Sri Nurhayati.
2019. “Pendidikan Perdamaian Perspektif Gus Dur: Kajian Filosofis Pemikiran
Pendidikan Gus Dur TADRIS : JURNAL PENDIDIKAN ISLAM
http://ejournal.iainmadura.ac.id/index.php/tadris.” TADRIS : JURNAL
PENDIDIKAN ISLAM Vol. 14 No.2, 2019.
REPUBLIKA.CO.ID.
2009. “Perjalanan Karir Gus Dur https://www.republika.co.id/berita/99132/perjalanan-karir-gus-dur,”
31 Desember 2009.
TEMPO. 2009.
“Perjalanan Karier ‘Sang Kiai Kontroversial’ Gus Dur Reporter
https://nasional.tempo.co/read/216487/perjalanan-karier-sang-kiai-kontroversial-gus-durWhatsAppShare
to TelegramShare to More,” 30 Desember 2009.
Tohet, Moch. 2017. “PEMIKIRAN PENDIDIKAN
ISLAM KH. ABDURRAHMAN WAHID DAN IMPLIKASINYA BAGI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM
DI INDONESIA https://ejournal.unuja.ac.id/index.php/edureligia.” Edureligia
Vol. 1, No. 2, Juli – Desember 2017 (Desember).
Ulfah, Rahmawati, Muhammada Ahlun Naza,
Zakaria Rizal, dan Ahmad Mushofihin. 2020. “RELEVANSI PENDIDIKAN ISLAM
PERSPEKTIF GUS DUR DI ERA MILENIAL Jurnal MUDARRISUNA Vol. 10 No. 1
Januari-Juni 2020.” Jurnal MUDARRISUNA Vol. 10 No. 1 (Juni).
Wikipedia.
2022. “Biografi Gus Dur https://id.wikipedia.org/wiki/Abdurrahman_Wahid,” 16
Juni 2022.



0 Comments