Pemikiran Pendidikan KH. Abdurrahman Wahid

   PEMIKIRAN PENDIDIKAN

KH. ABDURRAHMAN WAHID (GUSDUR)

Oleh : Ratna Dwi Lestari, S.Pd.I

(Tenaga Pendidik di MI Wahid hasyim II Ngampelrejo, Jombang, Jember Jawa Timur)

 

Kurangnya kesadaran dan pemahaman tentang Pendidikan multicultural sangat berbahaya terhadap nasib persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Rasa Fanatisme dalam artian sempit menjadi boomerang yang kapan saja bisa menghancurkan kebhinekaan bangsa Indonesia, tingginya angka  kekerasan, kerusuhan, terhadap perbedaan suku, agama, ras dan aliran menjadi indicator kurangnya rasa toleransi dan pemahaman terhadap Pendidikan multicultural. Sejatinya dalam proses Pendidikan bukan hanya terdapat proses transver of knowlwdge saja tapai juga mencakup proses value. Transfer of knownedge bertendensi ke arah penguasaan terhadap pengetahuan peserta didik (aspek kognitif) sedangkan Value maksudnya adalah sebuah proses dimana peserta didik mengimplementasikan pengetahuan yang ia miliki kedalam tindakan sehari-hari termasuk penerapan sikap toleransi, saling menghormati dengan sesama manusia.(Halimatus dan Nurhayati 2019)

           


Adanya pendidikan khususnya pendidikan Islam bertujuan untuk melahirhirkan generasi bangsa memiliki kecerdasan dalam segala hal baik jasmanai maupun rohani, sehat fisik maupun mental, tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan saja tapi juga ilmu agama untuk mencapai kesuksesan hidup baik didunia maupun diakherat selain itu Pendidikan Islam melahirkan rasa toleransi dan saling menghargai. Dari uaraian tersebut jelas tergambar bahwa pendidikan islam berusaha mencetak tunas bangsa mendaji generasi yang seimbang bukan hanya mahir dalam ilmu pengetahuan saja tapi juga dalam hal religius beriman dan bertaqwa terhada Alloh swt serta berusaha untuk selalu menjalankan nilai-nipai ajaran agam sesuai syariat Islam, menjalin hubungan baik dengan Alloh, alam dan sesama manusia. ilmu membuat manusia mengerti bagaimana cara bersikap dalam kehidupan sehari-hari, menjalin hubungan baik denga sesama maupun dengan lingkungan, untuk menciptakan perdamaina dan keselarasan dalam hidup didunia.

            Di eramodern yang didukung dengan kecanggihan tehnologi dimana setiap orang bisa dengan mudah dan bebas mengakses informasi secara virtual melalui media sosial dan semacamnya. Hal ini yang mendorong manusia untuk terus berevolusi sehingga dinamika persoalan dalam kehidupan masyarakat makin komplek dan rentan terjadinya konflik, apalagi Indonesia adalah negara majemuk yang terbentuk dari berbagai suku, agama, ras dan aliran, maka dari itu diperlukannya Pendidikan perdamaian (Peace education) sebagai solusi untuk mencegah atau meminimalisir kekerasan atau kriminalisasi yang mengatas namakan agama, ras, suku, aliran dan mencegah radikalisme. Dari sinilah adanya keinginan untuk mempelajari konsep pendidikan perdamaian yang di miliki oleh KH. Aburrahman Wahid untuk memperkaya khazanah didunia pendidikan Islam dan pendidikan perdamaian. 

A.                Biografi KH. ABDURRAHMAN WAHID (GUS DUR)

Gus Dur dilahirkan tanggal 4 Sya’ban 1940 (7 September 1940) di Denanyar, Jawa Timur dirumah kyai Bisri Syansuri ( rumah kakeknya dari fihak ibu). Secara garis keturunan Gus Dus merupakan cucu dari kyai Bisri Syansuri (Ayah dari pihak ibu) dan kyai Hasyim Asy’ari (Ayah dari pihak Ayah) yang sangat dihormati baik dari segi perannya dalam mendirikan NU maupun sebagai salah satu ulama’besar yang ada di Indonesia.(Barton 2020, 26) kyai Hasyim Asy’ari merupakan pendiri NU pada tahun 1926. K.H. Wahid Hasyim dan Hj.Solichah munawaroh merupakan orang tua Gus Dus, Gus Dur adalah anak pertama yang terlahir dengan nama lengkap  “Abdurrahman Addakhil” yang artinya sang penakluk, kemudian dalam perjalananya nama tersebut diganti dengan  Abdurrahman Wahid yang kemudian lebih akarab dipanggila Gus Dur. Beliau memiliki lima saudara kandung, yaitu: Aisyah, Salahuddin Al-Ayyubi atau Salahuddin Wahid, Umar Al-Faruq, Lilik Khadijah, dan yang terakhir Muhammad hasyim.(2016)

Baca juga : PERSIAPAN!!! Memulai "Bersanding Virus" Kondisi Baru Bagi Dunia Pendidikan

Pada akhir tahun 1944 disaat Gus Dur berusia empat tahun, beliau diajak ayahnya untuk tinggal dijakarta sedangkan ibu dan adik-adiknya tetap tinggal di Jombang. Gus Dur dan ayahnya tinggal di Menteng Jakarta pusat yang merupakan daerah yang banyak ditinggali oleh para pengusaha terkemuka, professional dan politikus. Di daerah tersebut Gus Dur berinteraksi dengan banyak orang penting dan secara tidak langsung juga mendapat berbagi pengetahuan yang belum ia dapat sebelumnya serta mencoba memahami karakter berbagai orang. Di bulan Desember tahun 1949 ayah Gus Dur menyiapkan sebuah rumah untuk ditinggali bersama anak dan istrinya, K.H. Wahid Hasyim adalah seorang mentri Agama yang mulai menjabat dalam lima cabinet dan baru berhenti pada bulan April 1952.(Wikipedia 2022) Walaupun gus Dur adalah anak seorang mentri tapi beliau lebih memilih sekolah yang biasa saja. Berikut nama-nama sekolah yang pernah menjadi tempat gus Dur menuntut Ilmu dimasa kecil adalah:

1.      Sekolah Dasar KRIS Jakarta Pusat

2.      Sekolah Dasar Matraman Perwari Matraman Jakarta Pusat

3.      Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP)

4.      Melanjutkan SMP di Yogyakarta

5.      Pesantren Al-Munawwir di krapyak

6.      Pesantren tegalrejo di Magelang

7.      Pesantren Denanyar Jombang

8.      Pesantren Tambak Beras, Jombang (1959-1963) dibawah bimbingan Kiai Wahab Chasbullah

9.      November tahun 1963 melanjutkan ke Departemen Studi Islam dan Arab Tingkat Tinggi, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (1964-1966)

10.  Fakultas Sastra Universitas Baghdad (1966-1970).(Barton 2020, 51–59)

Gusdur menikah dengan seorang perempuan yang cantic serta rendah hati yakni ibu Sinta Nuriyah, putri dari H.abdullah syukur seorang pedagang yang cukup terkenal dari Jombang pada tanggal 11 September 1971. Dari pernikahannya tersebut Gus Dur memiliki empat orang anak yaitu: Alisa Qotrunnada, Zanuba Arifah, Anisa Hayatunufus dan Inayah Wulandari.(TEMPO 2009) Sekitar tahun 1974 disaat beliau menjabat sebagai sekertaris pesantren tebu ireng beliau juga mulai menjadi seorang penulis dan kolumnis, melalui tulisannya tersebut Gus Dur mengungkapkan berbagai ide yang beliau miliki dan tuisan-tulisan tersebut mulai mendapat banyak sorotan dari berbagai fihak. Gus Dur juga mulai banyak mendapat undangan menjadi naras umber diberbagai forum diskusi baik didalam negri maupun luar negri. Karya-karya Gus Dur diantaranya adalah:

  • Kontraversi pemikiran Islam di Indonesia.
  • Hukum Islsm di Indonesia: Pemikiran dan praktek
  • Bunga rampai Pesantren
  • Kiai nyentrik membela pemerintah
  • Tabungan Gus Dur, Pribumi Islam, Hak minoritas, Reformasi kultur
  • Agama dan kekerasan: dari anarkisme Politik ke Teologi kekerasan
  • Gus Dur menjawab perubahan zaman
  • Membangun Demokrasi
  • Tuhan tidak perlu dibela
  • Prisma pemikiran Gus Dur
  • Menggerakkan tradisi: Esai-esai pesantren
  • Abdurrahman Wahid selama lengser: kumpulan kolom dan artikel
  • Islamku, Islam anda, Islam kita
  • Gus Dur menjawab kegelisaha rakyat
  • Islam Kosmopolitan: nilai-nilai Indonesia dan transformasi kebudayaan.(Tohet 2017)

Selanjutnya akan dituliskan sekilas perjalanan karir dari Gus Dur meliputi:

1.      Dosen dan Dekan difakultas Ushuludin, Universitas Hasyim Anshari.

2.      Ketua balai Seni Jakarta (1983-1985)

3.      Pendiri dan pengasuh pesantren Ciganjur

4.      Ketua umum PBNU (1984-1999)

5.      Ketua Forum Demokrasi (1991-1999)

6.      Ketua Konfrensi Agama dan Perdamaian Sedunia ( 1994)

7.      Anggota MPR ( 1999)

8.      Presiden RI ( 20 Oktober 1999 – 24 Juli 2001)

9.      Ketua Dewan Syuro PKB

10.  Ketua juri dalam Festival Film Indonesia (1986-1987).

Perjalan hidup Gus Dur sangat komplek mulai dari yang bersifat tradisional, ideologis, Fundamental , sekuler sampai modernis. Pengetahuan  Gus Dur tentang agama  diperoleh didunia pesantren, dipesantren karakter Gus Dus dibentuk secara etika, formal dan sruktural, perjalanan gus Dur ke Timur Tengah menambah pengetahuan beliau tentang berbagai pemikiran Agama dari yang konservatif, simbibolik-fundamentalis sampai yang liberal-radikal. Pemikiran tentang kemanusiaan Gus Dur banyak terilhami dari kolaborasi antara pemikiran barat dengan filsafat Humanismenya dan pemikiran dari Kyai fatah ( Tambak beras), KH. Ali Ma’sum (Krapyak), Kyai Chudhori ( Tegalrejo) sehingga membentuk Gusdur menjadi orang yang peka terhadap urusan kemanusiaan.

Lahirnya pemikiran Gus Dur berdasarkan pada tiga lapisan budaya yaitu budaya pesantren ( hierarkis, tertutup, etika yang serba formal) dunia Timur (terbuka dan keras), serta dunia barat ( liberal, rasional, dan sekuler) Gus Dur memadukan ketiga lapisan tersebut menjasi kultur yang bersinergi. Dari uraian diatas tidak ada yang lebih mendominasi pemikiran Gus Dur semua pengaruh memiliki porsi yang sama ditambah lagi dengan kebebasan cara berfikir dan luasnya pemikiran Gus Dur inilah yang menjadikan Gu Dur sebagai sosok yang selalu dinamis dan sulit untuk dipahami.(REPUBLIKA.CO.ID 2009) Gus Dur Wafat pada tanggal 30 Desember 2009, dirumah sakit Cipto Mnagunkusumo(RSCM) Jakarta pada usia 69 tahun, dan dikebumikan di komplek pemakaman keluarga pondok pesantren Tebuireng Jombang, jawa timur.(Tohet 2017)

Penghargaan yang pernah beliau raih adalah:

  • Ramon Magsaysay Award for community leadhership, Ramon Magsasay Award Foundation, Philipna tahun 1991
  • Islami missionary award from the Government of Egypt tahun 1991
  • Penghargaan bina Ekatama tahun 1994
  • Man of the Year 1998 majalah berita Independent tahun 1998
  • Honorary Degree in public Administration and policy Issues from the University of Twente, tahun 2000
  • Gelar Doktor kehormatan dari universitas Jawaharlal Nehru tahun 2000
  • Ambassador for peace salah satu badan PBB tahun 2001
  • Doctor honoris Causa dari universitas Sokka, jepang, tahun 2002
  • doctor Honoris Causa bidang hukum dari konkuk University, seoul, korea selatan tahun 2003
  • Medals for Valor (penghargaan bagi personal yang gigih memperjuangkan pluralism dan multikulturalisme) oleh Simon Wieshenthal Center (Yayasan dibidang HAM dan toleransi umat beragama)New York tahun 2009
  • Penghargaan nama KH.Abdurrahman Wahid sebagai salah satu jurusan studi agama di temple University, philadelphi tahun 2009.(Tohet 2017)

B.     Tujuan Pendidikan Islam menurut Gus Dur

          Urgensi Pendidikan islam terletak pada prakteknya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga ruh Pendidikan menjadi lebih penting dari padaformalitas fisik yang Nampak diluar. Menjadikan agama sebagai sumber inspirasi orang beragama dan bernegara adalah hal yang lebih utama. Menurut Gus Dur ada empat al yang yang bisa menegakkan Indonesia dimasa datang yautu : system politik, system ekonomi, system Pendidikan dan system etika atau moral atau akhlaq. Dimana keempat system tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Untuk melahirkan politik yang kuat perlu disokong oleh system ekonomi yang mumpuni, kemampuan mengelola berpolitik dan mengatur sistenm Pendidikan yang baik dan ketiga hal tersebut direkatkan dengan adanya akhlaq yang baik dalam kehidupan sehari-hari dalam berbangsa dan bernegara.

 Tujuan dari Pendidikan perdamaian (peace education) dalam Pendidikan Islam adalah menyentuh aspek kognitif dan aspek praktis sehingga peserta didik bukan hanya mendapat materi saja tapi juga mengimplemtasikannya dalam kehidupan sehari-hari yang melibatkan komponen-komponen budaya khas Nusantara guna melestarikan budaya warisan Nenek moyang yang tercover dalam pendidikan. Membangun pemikiran Islam yang Moderat yang mendorong lahirnya demokrasi, pluralism berdasarkan nilai agama, multikulturalisme dan toleransi di kalangan kaum Muslim Indonesia. Tujuan ini juga diterapkan menjadi salah satu program dalam Wahid Istitute mengkampanyekan pemikiran islam yang menghargai pluralitas dan demokrasi. Gus Dus menyadari bahwa pendidikan dan pesantren memiliki power yang besar dalam menentukan sama depan bangsa maka dari itu beliau mencoba mensinergikan Pendidikan dan pesantren untuk mencetak generasi muda yang menjunjung nilai pluralitas di Indonesia dengan bersendikan nilai-nilai agama. Menurut Gus Dur agama adalah sebagai akhlaq atau etika bukan idiologi yang digunakan untuk mengislamkan negara. Maka dari itu akhlaq menjadi prioritas untuk mewujudkan masyarakat yang tentram, damai dalam nilai yang dihormati Bersama.(Tohet 2017)

 

C.    Kurikulum yang tepat dalam Pendidikan Islam dalam perspektif Gus Dus

 

Kurikulum Pendidikan islam dalam versi Gus Dus haruslah sesuai dengan kondisi zaman, menggunakan pendekatan yang bersifat demokratis dan dialogis antara guru dan peserta didik sehingga melahirkan proses pembelajaran yang aktif, kreatif dan objektif guna mengarahkan peserta didik untuk mampu berfikir kritis dan memiliki semangat untuk terus belajar sepanjang hayat sehingga ia akan menjadi orang yang terus mengikuti perkembangan zaman.(Tohet 2017) Bicara soal pesantren Gus Dur menginginkan pesantren harus dapat menjaga keunikan identitasnya  menjaga budaya keilmuan klasiknya maksudnya pesantren tidak sepenuhnya mengikuti perkembangan zaman yang berlebihan. (Ulfah dkk. 2020)dipesantren Gus Dur mengharapkan adanya gerakan modernisasi pesantren terutama kurikulumnya, dimana perubahan  Kurikulum yang ada pipesantren mengikuti memadukan konsep klasik dan modern, menerapkan sesuatu yang baru yang dianggap positif, Misalnya:

1.      Membangun lab untuk mengembangkan kajian keislaman maka perlu diajarkan ilmu nahwu, tafsir Al-Qur’an dan Hadist Nabi, sehingga kelestarian nilai-nilai keislaman akan tetap terjaga sepanjang masa.

2.      Memberikan materi kewira usahaan, sains dan tekhnologi.(Halimatus dan Nurhayati 2019)

 

D.    Metode dan konsep pendidikan yang tepat menurut Gus Dur

 

          Metode yang dipakai adalah dialog, pembiasaan, modeling kepada peserta didik untuk tidak melakukan kekerasan, mengutamakan membangun sikap kemanusiaan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Pendidikan perdamaian.(Halimatus dan Nurhayati 2019)

 

           Konsep Pendidikan yang dikembangkan oleh Gus Dur adalah Religious Multiculturalism based education maksudnya Pendidikan yang berdasarkan pada nilai-nilai keagamaan dan bertujuan untuk membimbing atau mengantarkan peserta didik menjadi manusia utuh, mandiri dan bebas dari belenggu penindasan.(Tohet 2017) Ini sejalan dengan aliran Filsafat Pendidikan “Eksistensialisme”.kebenaran yang hakiki merupakan sebuah pilihan yang bersumber dari diri kita sendiri. Maksudnya adalah guru hanya berperan sebagai fasilitator yang tugasnya membantu peserta didik dalam menemukan jati dirinya, pendidik harus bisa melihat peserta didik secara utuh segala potensinya, kekuranganya, kelebihannya yang dimiliki peserta didik, kemudia menghaormati dan menghargai keragaman masing-masing peserta didik baik secara rasional maupun emosioanal. Memberikan kemerdekaan tiap peserta didik dalam Pendidikan, melihat dan mengarahkan pertumbuhannya dalam proses penyadaran dan humanisasi. Dari uraian diatas tersirat dengan jelas konsep Pendidikan yang diusung oleh Gus Dus mengandung konsep Pendidikan multicultural. Contoh Konsep Pendidikan yang dibawa oleh Gus Dur diantaranya adalah:

  1. Memadukan Pendidikan yang bersifat tradisional atau klasik dengan Pendidikan yang berkonsep modern atau barat tanpa meninggalkan esensi ajaran Islam. Konsep ini dirasa bisa menjadi salah satu pendekatan untuk menyelesaikan konflik- konflik berantai guna mewujudkan Pendidikan Islam yang modern sesuai dengan perkembangan zaman.(Halimatus dan Nurhayati 2019). 
  2. Perlu adanya pembaharuan Islam yang disebut dengan Istilah Tajdid Al-tarbiyah al-islamiyah dan al-hadasah. Maksud dari kata tersebut adalah dalam proses Pendidikan nilai-nilai ajaran agama Islam harus tetap diutamakan sedangkan yang perlu dirubah adalah metode penyampaiannya agar peserta didik lebih antusias dalam proses Pendidikan sehingga bisa menyerap ilmu pengetahuan lebih maksimal.
  3. Pendidikan bisa diperoleh dimanapun baik di lingkungan formal dan nonformal. Penanaman nilai-nilai ajaran islam bisa dilakukan dimanapun baik lingkungan formal seperti sekolah dan universitas maupun dilingkungan nonformal seperti pesantren, pengajian, paguyupan, dan lainya, pada intinya disemua lingkungan kita bisa mendapat ilmu tentang Pendidikan nilai-nilai agama.
  4. Pendidikan islam harus mampu merespon tantangan modernisasi dengan cara selalu menyimak berbagai perkembangan Pendidikan islam diberbagai tempat guna memeiliki cakrawala wawasan yang luas sehingga mampu memberikan solusi yg berkaitan dengan masalah-masalah sosial dalam Pendidikan. Hal ini sejalan dengan firman Alloh dalam surah Al-Baqoroh ayat 30 yang pada intinya mengemukakan bahwa “ Manusia adalah sebagai kholifah dibumi “ istilah ini mengisyaratkan bahwa setiap individu memiliki kebebasan dalam menuntut ilmu maupun beraktifitas serta membutuhkan ruang gerak yang tidak mengekang aktifitasnya selama hal itu tidak merugikan orang lain demi mewujudkan tugasnya sebagai khalifah dibumi .
  5. Pendidikan Islam harus menjadi suatu media dalam mengembangkan kreatifitas dan kemampuan peserta didik, dimana peserta didik diposisikan sebagai subjek dalam Pendidikan bukan sebagai objek semata. sejalan dengan pemikiran Paulo Freire (tokoh pendidikan Brazil) yang mengungkapkan bahwa pendidikan yang ideal harus berorientasi pada nilai-nilai Humanisme. Pendidikan Humanism yang dimaksud adalah kodrat manusia adalah sebagai pelaku atau subyek yang aktif bukan sebagai penderita atau objek Pendidikan yang dipangdang pasif, hal ini akan melahirkan kekuatan, kesadarandan pembebasan manusia dari kondisi ketertindasan yang ada dalam Pendidikan. Contoh Bentuk ketertindasan adalah segala hal yang menghambat proses pendidkan seperti: komersialisasi Pendidikan yang tersistem, kekerasan dalam Pendidikan dan lainnya. (Halimatus dan Nurhayati 2019)

 E.     Strategi Pendidikan Islam dalam perspektif Gus Dur

            1.      Srategi politik

Selama perjalanan karirnya Gus Dus berusaha untuk  terjun langsung dalam perkemabnganan dunia Pendidikan dengan upaya menyediakan fasilitas yang memadai yang bisa dimanfaatkan oleh semua orang selain itu Gus Dur juga menggerakkan strategi politik dengan cara memperjuangkan sesuatu yang diperjuangkan terhadap nilai-nilai Pendidikan Islam.

2.      Strategi kultural

    Menggunakan tradisi yang ada agar membuat masyarakat patuh pada nila-nilai Pendidikan Islam dengan cara masih mempertahankan budaya dan tradisi daerahnya, seperti: yasinan, tahlilan, pengajian rutin dimasyarakat,(Ulfah dkk. 2020)

3.      Strategi sosio-kultural

          Menyatukan masyarakat yang plural dan majemuk melalui Pendidikan perdamaian (peace education) masyarakat akan dibantu menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapinya maka secara otomatis Pendidikan akan membawa masyarakat pada kehidupan yang lebih baik .(Halimatus dan Nurhayati 2019)

F.     Evaluasi yang tepat dalam Pendidikan Islam dalam perspektif Gus Dur

Pendidikan merupakan suatu upaya dalam mempersiapkan sumber daya manusia (human resource) yang memiliki keahlian dan keterampilan sesuai tuntutan pembangunan bangsa. Kualitas suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh factor pendidikan. Perwujudan masyarakat berkualitas tersebut menjadi tanggung jawab pendidikan. Terutama dalam menyiapkan peserta didik menjadi subjek yang makin berperan menampilkan keunggulan dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri, dan professional pada bidang masing-masing. Upaya peningkatan kualitas pendidikan dapat tercapai secara optimal apabila dilakukan pengembangan dan perbaikan terhadap komponen-komponen pendidikan. Dengan demikian, pendidikan pada dasarnya diselenggarakan untuk membebaskan manusia dari berbagai persoalan hidup yang melingkupinya. Pendidikan merupakan upaya mengembalikan fungsi manusia menjadi manusia agar mereka terhindar dari berbagai bentuk penindasan, kebodohan, dan ketertinggalan artinya pendidika merupakan bentuk pembebasan yang mengeluarkan manusia dari berbagai belenggu yang menyebabkan stagnasi peradaban manusia.

Bentuk evaluasi yang relevan versi Gus Dur dalah perlu adanya bimbingan dan pelatihan tentang peningkatan proses (Process Oriented) merupakan konsep dimana menganggap bahwa proses itu lebih penting dari pada hasil yang didapat, memandang semua manusia sama derajatnya walaupun berbeda suku, agama ras dan aliran, semua memiliki hak yang sam untuk mengenyam proses Pendidikan sebagai bekal hidup didunia dan diakherat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Barton, Greg. 2020. BIOGRAFI GUS DUR. Yogyakarta: IRCiSoD.

Fathoni. 2016. “Kisah Nyai Wahid Hasyim Mendidik Gus Dur dan Kelima Adiknya Sumber: https://www.nu.or.id/fragmen/kisah-nyai-wahid-hasyim-mendidik-gus-dur-dan-kelima-adiknya-eO0dbhttps://www.nu.or.id/fragmen/kisah-nyai-wahid-hasyim-mendidik-gus-dur-dan-kelima-adiknya-eO0db,” 5 Agustus 2016.

Halimatus, Sa’diyah, dan Sri Nurhayati. 2019. “Pendidikan Perdamaian Perspektif Gus Dur: Kajian Filosofis Pemikiran Pendidikan Gus Dur TADRIS : JURNAL PENDIDIKAN ISLAM http://ejournal.iainmadura.ac.id/index.php/tadris.” TADRIS : JURNAL PENDIDIKAN ISLAM Vol. 14 No.2, 2019.

REPUBLIKA.CO.ID. 2009. “Perjalanan Karir Gus Dur https://www.republika.co.id/berita/99132/perjalanan-karir-gus-dur,” 31 Desember 2009.

TEMPO. 2009. “Perjalanan Karier ‘Sang Kiai Kontroversial’ Gus Dur Reporter https://nasional.tempo.co/read/216487/perjalanan-karier-sang-kiai-kontroversial-gus-durWhatsAppShare to TelegramShare to More,” 30 Desember 2009.

Tohet, Moch. 2017. “PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM KH. ABDURRAHMAN WAHID DAN IMPLIKASINYA BAGI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA https://ejournal.unuja.ac.id/index.php/edureligia.” Edureligia Vol. 1, No. 2, Juli – Desember 2017 (Desember).

Ulfah, Rahmawati, Muhammada Ahlun Naza, Zakaria Rizal, dan Ahmad Mushofihin. 2020. “RELEVANSI PENDIDIKAN ISLAM PERSPEKTIF GUS DUR DI ERA MILENIAL Jurnal MUDARRISUNA Vol. 10 No. 1 Januari-Juni 2020.” Jurnal MUDARRISUNA Vol. 10 No. 1 (Juni).

Wikipedia. 2022. “Biografi Gus Dur https://id.wikipedia.org/wiki/Abdurrahman_Wahid,” 16 Juni 2022.

Post a Comment

0 Comments