Tingkatan Kecakapan Tiap Ranah

 

TINGKATAN KECAKAPAN TIAP RANAH

Oleh : Ratna Dwi Lestari,S.Pd.I

(Tenaga Pendidik di MI Wahid hasyim II Ngampelrejo)


Indikator suksesnya sebuah pembelajaran adalah ketika rancangan pembelajaran telah disusun dengan baik dan bisa didemonstrasikan dengan baik pula. Begitu juga pembelajaran  Pendidikan Agama Islam sebagainama matapelajaran yang diberikan kepada peserta didik mulai tingkat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi mestilah dirancang sesuai dengan harapan dan kebutuhan peserta didik. Pendidikan Agama Islam dapat diajarkan dengan saksama guna mencapai tujuan yang sesuai dengan konsep sejarah dan masa depan bangsa. Tujuan yang hendak dicapai adalah tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang sesuai dengan rencana dan aktivitas pembelajaran.Tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam versi “MerdekaBelajar” mesti memperhatikan kecakapan tiga ranah yang biasa kita sebut dengan kecakapan kognitif, kecakapan afektif dan kecakapan prikomotorik. Mengingat “Merdeka Belajar membutuhkan juga rancangan atau modul pembelajaran hendaknya memperhatikan juga  hal-hal berikut:

1.      Pembelajaran Pendidikan Agama Islam membuat peserta didik memiliki kemampuan beripikir kritis

2.      Pembelajaran Pendidikan Agama Islam membuat peserta didik memiliki kreativitas

3.      Pembelajaran Pendidikan Agama Islam membuat peserta didik memiliki kemampuan dan keterampilan berkomunikasi

Melangkah dari sini Pembelajaran Pendidikan Agama Islam membuat peserta didik memiliki kerjasama dan Tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dikatakan tercapai dan berhasil yaitu dengan mengukur tingkat kemampuan peserta didik yang mencapai tingkatkritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif, dan konfiden. Pengajar yang kreatif akan memilah dan memilih dalam penyampaian materi dan pembuatan soal apakah LOTS (Low Order Thinking Skill)  C1 C2 atau MOTS ( Medium Order Thinking) C3 dan HOTS (Hot Order Thingking)C4 C5 C6 Kecakapan tiga ranah diperlukan guna untuk memperoleh tujuan pembelajaran yang dimaksud dengan begitu indikator pembelajaran PAI dalam kecakapan tiga ranah sangat dibutuhkan.

 

                        Dalam Undang –undang Pasal 25 (4) Peraturan Pemerintah Nomor19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menegaskan bahwa pembelajaran dan  penilaian harus dapa tmengembangkan kompetensi peserta didik yang berhubungan dengan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara komprehensif dan berkelanjutan(Sumaryanto dan Lestari 2015). Hal ini menunjukkan bahwa setiap peserta didik yang sedang melakukan pembelajaran maupun yang sudah menyelesaikan jenjang pendidikannya harus memiliki kemampuan dibidang kognitif, afektif, dan psikomotor pada masing-masing mata pelajaran yang dipelajari. Menurut Benjamin S.Bloom mengenai tujuan dalam pembelajaran yang harus dicapai oleh peserta didik meliputi perubahan pada ranah Kognitif, Afektif, Psikomotorik, yang mana akan diuraikan lebih detail sebagai berikut:(Magdalena, Hidayah, dan safitri 2021)  

           

 A.    RANAH KOGNITIF

                Domain kognitif berkaitan dengan pemahaman, sehingga proses pembelajaran yang telah diberikan pada peserta didik diharapkan mampu merubah pemahaman peserta didik menjadi lebih tinggi sesuai pokok bahasannya. Bloom mengklasifikasikan Domain Kognitif kedalam 6 ranah yang saling berkaitan dan tersusun secara rapi sesuai dengan tingkatannya. Tingkatan tersebut tersusun dimulai dari yang paling mudah sampai pada tingkatan yang paling sulit, tingkatan tersebut adalah :

1.      Pengetahuan (Knowledge) adalah kemampuan yang paling rendah, peseta didik dituntut untuk dapat mengenalisa atau mengetahui adanya konsep, prinsip, fakta atau istilah tanpa harus ia mengerti, pengetahuan termasuk dalam C1 untuk kata kerja operasional yang dipakai adalah: Menyebutkan, Menamai, Menulis dan lain-lain.

2.      Pemahaman (Comprehension) adalah tingkatan kemampuan yang menuntut peserta didik untuk memahami atau mengerti tentang materi yang telah disampaikan oleh guru, tingkatan ini diindikasikan dengan kemampuan peserta didik dalam menjabarkan kembali, menerjemahkan, dan menafsirkan. Pemahaman (Comprehension) kata kerja operasional yang dipakai adalah: Menjabarkan, Merinci, Menguraikan dan lain-lain.

3.      Penerapan (Applikacation) adalah jenjang kemampuan dimana peserta didik dituntut untuk bisa mengemukakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode, prinsip dan teori-teori dalam situasi baru dan konkrit. Penerapan (Applikacation) termasuk kedalam C3, kata kerja yang bisa digunakan dalam soal untuk mengindikasikannya adalah: Mengurutkan, Menentukan dan lain-lain.

4.      Analisis (Analysis) merupakan jenjeng kemampuan yang menuntut peserta didik untuk mampu menguraikan suatu situasi atau keadaan tertentu kedalam unsur-unsur atau komponen pembentuknya. Kemampuan Analisis dibagi menjadi tiga :

a)      AnalisUnsur.

b)      AnalisiHubungan.

c)      Analisiprinsi-prinsip yang terorganisasi.

Benjamin S.Bloom mengklasifikasikan Analisis menjadi C4, kata kerja yang digunakan dalam C4 adalah: membandingkan, menyimpulkan, mengaitkan dan lain-lain.


 Baca juga : Pemikiran Pendidikan KH. Abdurrahman Wahid


5.      Evaluasi (Evaluation) merupakankemampuanuntukmenilaiketepatan: teori, prinsip, metode, proseduruntukmenyelesaikanmasalahtertentu.SelainSintesisEvaluasi juga merupakankemampuantinggi yang membutuhkanpemikiran yang mendalam, Evaluasimerupakan C5, kata kerjaoperasional yang menunjukkankemampuan pada tingakatevaluasidiantaranya: Mengkritik, Mengarahkan, Memisahkan dan lain-lain.

6.      Sintesis (Syntesis) adalah tingkatan dimana peserta didik di tuntut agar mampu untukmenyusun kembali atau memadukan bagian-bagian menjadi satu kesatuan yang utuh sehingga bisa bisa membentuk suatu pola, struktur atau bentuk yang baru. Kemampuan Sintesis termasuk kedalam kemampuan tingkat tinggi yang berada pada C6 sehingga dibutuhkan tingkahlaku yang kreatif untuk bisa menguasainya, kata kerja yang digunakan adalah: Merancang, Membuat, Mengkreasi dan sebagainya.

Tahapan-tahapan kemampuan diatas merupakan revisi dari Anderson dan Krathwohl atas susuna kerangka teori Benjamin S.Bloom, komponen yang mereka miliki sama akan tetapi dari segi penyusunan mengalami perbedaan pada tinkat evaluation dan Synthesis sebagai mana tergambar dibawah ini:

A.    Ranah Afektif

Bloom dan dan Krathwohl memberikan penekanan bahwa ranah Afektif mencakup perasaan, emosi, apresiasi, pertimbangan suatu nilai dan tingkatan penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu. Berikut akan dipaparkan domain Afektif.

a)      Kemauan menerima (Receiving)

Maksudnya adalah kemampuan yang menuntut peserta didik untuk peka terhadap fenomena atau kejadian-kejadian tertentu, kepekaan ini di indikasikan dengan adanya kesadaran kemampuan untuk menerima dan memperhatikan kata kerja operasional yang digunakan seperti: Mengikuti, Mematuhi dan lain-lain.

b)      Menanggapi/menjawab (Responding)

Merupakan kemampuan peserta didik meliputi kepekaan serta merespon terhadap sesuatu hal. Kepekaan untuk melakukan itu muncul secara sukarela bukan karena paksaan dari pihak manapun,contohnya kepekaan peserta didik untuk membaca materi pelajaran secara mandiri tanda mendapat instrusi dari guru, peserta didik mau menjawab secara sukarela, kata kerja operasional yang digunakan seperti: Melaporkan, Mengatakan dan lain-lain.

c)      Menilai (Valuing)

Jenjang pengetahuan yang menuntut peserta didik untuk memberikan penilaian terhadap suatu objek, fenomena atau tingkah laku tertentu,  secara konsisten. kata kerja operasional yang digunakan seperti: Mengasumsikan, meyakini dan lain-lain.

d)      Organisasi (Organization)

Kemampuan dalam segi menyatukan nilai-nilai yang berbeda, mencari solusi, membentuk suatu system nilai. kata kerja operasional yang digunakan seperti: Memadukan, Mengubah dan sebagainya.

e)      Menghayati (Characterization)

Kemampuan peserta didik untuk mengontrol tingkah lakunya dalam berbagai tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Kata kerja operasional yang digunakan seperti: Berakhlaq mulia, Membuktikan dan lain-lain.


A.    Ranah Psikomotorik

   Disaat peserta didik telah menguasai aspek kognitif dengan baik maka akan mempermudah tercapainya keberhasialan dalam mengembangkan aspek Psikomotornya. Aspek psikomotor berhubungan dengan segala tindakan nyata yang dapat kita cermati, kesimpulannya psikomotor terbentuk karena adanya dasar atau pedoman yang telah ia dapat melalui aspek Kognitif, semakin luas pengetahuan seseorang maka semakin bagus perkembangan kecakapan psikomotornya tentunya hal tersebut juga harus disertai dengan kesadaran yang tinggi guna melahirkan akhlaqul karimah.(Istiqomah 2021)

Domain ranah Psikomotor meliputi kemampuan melakukan, menggerakkan dan mengkoordinasikan gerakan atau berhubungan erat dengan kegiatan otot  yang menimbulkan gerakan pada tubuh, itulah sebabnya domain psikomotor erat kaitannya dengan sensory motor atau perceptual motor. Gerakan tersebut dimulai dari yang  paling sederhana sampai pada gerakan yang kompleks sepertI: gerakan reflek, gerakan tertentu yang bisa dilakukan karena rutin latihan.

                  Ranah psikomotor mencakup lima aspek yaitu:

 

a.       Imitasi (Imitation)

Pada tahap ini peserta didik dituntut untuk bisa mengulang atau menirukan , memberikan respon secara internal system otot sebuah gerakan yang ia lihat. Imitasi merupakan tingkatan paling rendah dalam domain psikomotor.

b.      Manipulasi (Manipulation)

Peserta didik dituntut agar mampu melakukan suatu tindakan sesuai dengan yang liaht dan sesuai dengan instruksi yang ia terima

c.       Presisi (Precision)

Tingkatan ini menuntut peserta didik untuk melakukan segala sesuatu secara lebih tepat atau meminim alisir kesalahan dalam melakukan perbuatan.

d.      Artikulasi (Articulation)

Tingkatan dimana peserta didik dituntut untuk mampu mengkoordinasikan, mengurutkan bermacam-macam tingkah laku menjadi tindakan yang urut.

e.       Naturalisasi (Naturalization)

Merupakan tahapan tertinggi pasa aspek psikomotorik yang mampu melahirkan tingkah laku secara spontan yang sesuai dengan norma.

Untuk tes psikomotorik kebahasaan bisa dilihat dari segi berdeklamasi, membaca puisi, cerpen, drama

(kesemuanya dengan grak mimic dan pantomimic), dramatisasi

(bentuk yang lebih sungguhan: pentas drama), dan lain-lain.(Nur wati 2014)

 

Tester sebut bisa berbentuknya seperti:

1.      Diktea.

Dengan dikte, siswa dituntut untuk mampu memahami makna dari sesuatu yang didengar dan kemudian menuliskannya dengan sekaligus yang dibatasi oleh waktu.

2.      Berbicara

Menurut Oller dalam Nurgiyantoro, 2001: 181 Tes keterampilan berbicara seharusnya lebih mendapat perhatian karena paling mencerminkan kemampuan berbahasa seseorang. Tes keterampilan berbicara (ekpresilisan) yang bersifat pragmatic misalnya; berupa interpretasi terhadap gambar susun (rangkaian gambar yang  membentuk cerita) secara lisan, wawancara dan lainnya.(Nur wati 2014)

 

Contoh soal ranah KOGNITIF, AFEKTIF dan PSIKOMOTORIK

A. Domain Kognitif

1.      Pengetahuan (Knowledge) C1

Sebutkan hukum puasa Romadhon!

Untuk menjawabnya peserta didik cukup menghafalkan saja materi yang telah dipelajari.

 

2.      Pemahaman (Comprehension) C2

Apakah perbedaan wudhu dan tayamum?

Peserta didik bertugas membandingkan dua pengertian, ciri atau keadaan lainya terkait dengan dua objek yang dibandingkan tersebut.

 

3.      Penerapan (Applikacation) C3

Hari ini keluarga ani sedang melakukan perjalanan liburan kenegri jepang, selama 12 jam mereka berada dalam pesawat terbang, mereka naik pesawat dari pukul 10.00 – 23.00, sebagai umat islam yang taat beribadah mereka tetap menjalankan ibadah sholat wajib ketika mereka dalam pesawat, bagaimanakah cara mereka bersuci sebelum melakukan sholat wajib?

Untuk menjawab soal tersebut peserta didik harus memahami materi tentang thoharoh kemudian mengaplikasikannya dalam menjawab soal tersebut. Pada intinya sebelum menjawab soal tersebut peserta didik harus menguasai konsep tentan thoharoh

 

4.      Analisis (Analysis) C4

                         Susi megalami menstruasi pada tanggal 02 mei empat hari kemudian darah menstruasinya sudah tidak keluar lagi sehingga Susi memutuskan untuk bersuci agar dapat menjalankan ibadah sholat, pada tanggal 25 mei susi mengeluarkan darah kotor kembali, apakah nama darah kotor yang dikeluarkan Susi saatini?

Peserta didik dituntut untuk memiliki kemampuan menganalisis segala informasi yang ada dalam soal, menghubungkan dan menerapkan konsep sebelum menjawabnya.

 

5.      Evaluasi (Evaluation) C5

       Makan dan minuman halal apasaja yang perlu kita konsumsi setiap hari agar tubuh kita sehat dan terhindar dari virus Corona? Jelaskan mengapademikian!

Peserta didik diharapkan mampu menjawab soal tersebut dari pengetahuan makana dan minuman yang halal dan sehat, memahamizat dan vitamin apa saja yang dibutuhkan tubuh agar terhindar dari virus.

 

6.      Sintesis (Syntesis) C6

Apakah hubungan antara makanan halal dan makanan sehat?

Peserta dituntut untuk menemukan hubungan antara dua hal dan mengemukakan argumentasinya berdasarkan pengetahuan dan pemahaman yang ia miliki.(Aleepenaku.com 2021)

 

 B. Domain Afektif 

  1. Penerimaan sudah kanak-kanak rutin melakukan puasa wajib?
  2. Respons Bagaimana sikapmu terhadap teman yang tidak melakukan puasa wajib?
  3. Menghargai Sikap apa yang tercermin dari seseorang yang selalu berpuasa
  4. OrganisasiBagaimanajikahendakmelakukanpuasaternyatamengalamisakitperut dan pusing-pusing
  5. KarakterisasiSikapapasaja yang haruskitalakukansaatmenjalankanibadahpuasa?(YAHYA 2016)

 C. Domain Psikomotorik

  1. Persepsi Bagaimana pendapat mujika ada seseorang yang berpuasa tapi makan di tempat sepi secara diam-diam?
  2. KesiapanmelakukansuatupekerjaanApa yang anak-anaklakukansaatberpuasa ?
  3. Responsterbimbingapakahadaperubahanprilakuanak-anaksetelahberpuasa?
  4. KemahiranSiswadimintamelafalkanniat dan doaberbukapuasa
  5. AdaptasiPesertadidikmampumenunjukkan hikmah yang dipetikdariberpuasasesuaiindividu.(YAHYA 2016)


DAFTAR PUSTAKA

Aleepenaku.com. 2021. “Cara Membuat dan Contoh Soal HOTS SD Pilihan Ganda dan Essay https://www.aleepenaku.com/2021/12/cara-membuat-dan-contoh-soal-hots-sd-mi.html,” 1 Desember 2021.

Fuadi, Totok Sumaryanto, dan Wahyu Lestari. 2015. “PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR PEMBELAJARAN IPA MATERI TUMBUHAN HIJAU BERBASIS STARTER EXPERIMENT APPROACH BERWAWASAN KONSERVASI https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jere/article/view/6926 Vol 4 No 1 (2015).” Journal of Educational Research and Evaluation Vol 4 No 1.

Istiqomah, Wiwin Nur, dan Syafi’i. 2021. “PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PAI-BAHASA ARAB PADA ASPEK PSIKOMOTORIK (KETERAMPILAN) DI MI AL-IBROHIMI-SIDOARJO http://www.e-jurnal.unisda.ac.id/index.php/ALF/article/download/2474/1652/.” Al-Fakkaar: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa Arab Vol. 2 No. 1 (Februari).

Magdalena, Ina, Amilanadzma Hidayah, dan Tiara safitri. 2021. “ANALISIS KEMAMPUAN PESERTA DIDIK PADA RANAH KOGNITIF, AFEKTIF, PSIKOMOTORIK SISWA KELAS II B SDN KUNCIRAN 5 TANGERANG https://ejournal.stitpn.ac.id/index.php/nusantara/article/view/1167.” Nusantara : Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 1 (Maret).

Nur wati, Andi. 2014. “PENILAIAN RANAH PSIKOMOTORIK SISWA DALAM PELAJARAN BAHASA https://www.researchgate.net/publication/329520855_PENILAIAN_RANAH_PSIKOMOTORIK_SISWA_DALAM_PELAJARAN_BAHASA.” eptember 2014Edukasia Jurnal Penelitian Pendidikan Islam Vol. 9, No. 2, (September).

YAHYA, MUAMMAR. 2016. “Contoh soal ranah KOGNITIF, AFEKTIF dan PSIKOMOTORIK http://muammarevaluasi.blogspot.com/2016/04/contoh-soal-ranah-kognitif-afektif-dan.html iposting oleh MUAMMAR YAHYA di 06.39,” 26 April 2016.

Yanuardianto, Elga. 2021. “KONSEPSI PENDIDIKAN KARAKTER ANAK PERSPEKTIF THOMAS LICKONA (Studi Kritis Dalam Menjawab Problem Moral Di Indonesia).” FAJAR Jurnal Pendidikan Islam (September) Vol. 1 No. 1 (September).

Post a Comment

0 Comments